UniqMag
Diknas Jombang

Duka Dunia Pendidikan Kita

berita terkini
Moh. Mahrus Hasan,Pengurus PP. Nurul Ma’rifah Poncogati Bondowoso dan Guru MAN Bondowoso
Berita 1

DUNIA pendidikan kita sedang berduka. Kamis (1/2), Achmad Budi Cahyanto (Pak Budi), guru honorer di SMAN 1 Torjun Sampang Jawa Timur harus meregang nyawa akibat dianiaya oleh HZF, muridnya sendiri.

Seperti banyak diberitakan di media, awalnya, guru tersebut menegur HZF berkali-kali karena tidak menghiraukan proses pembelajaran, bahkan mengganggu murid-murid lainnya. Hingga akhirnya Pak Budi mencolek pipi HZF dengan cat lukis. Tidak terima dengan perlakuan guru tersebut, HZF membalasnya dengan pukulan ke area kepala Pak Budi. Akibatnya, Pak Budi harus dilarikan ke rumah sakit di Surabaya dan beberapa jam kemudian dinyatakan meninggal dunia.

Mengapa murid melawan guru? Dua alasan berikut setidaknya bisa menjadi jawabannya.

Pertama, pemberlakuan UU Perlindungan Anak dan program Sekolah Ramah Anak yang tidak bijaksana (kebablasan) justru menjadi bumerang.

Memang dalam UU. No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak (PA) pasal 9 (1a) disebutkan bahwa Setiap Anak berhak mendapatkan perlindungan di satuan pendidikan dari kejahatan seksual dan kekerasan yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain.

Sedangkan, Permen PP dan PA No. 12 Tahun 2012 mendefinisikan Sekolah Ramah Anak adalah sekolah yang mampu menjamin pemenuhan hak anak dalam proses belajar mengajar, aman, nyaman, bebas dari kekerasan dan diskriminasi, serta menciptakan ruang bagi anak untuk belajar berinteraksi, berpartisipasi, bekerja sama, menghargai keberagaman, toleransi dan perdamaian.

Tetapi, karena UU Perlindungan Anak dan program Sekolah Ramah Anak itu, ada fenomena guru-guru terkesan membiarkan muridnya. Mereka hanya masuk kelas dan mengajar. Selesai. Bukannya tidak mau mendidik muridnya untuk lebih baik, tetapi mereka takut dilaporkan wali murid ke polisi sebagaimana teman-teman mereka alami. Jika demikian, siapa yang dirugikan? Tentu murid, orang tua, dan masyarakat. Kita pasti tidak ingin “Orang tua yang anaknya tidak mau ditegur guru di sekolah, silahkan didik sendiri, bikin kelas sendiri, bikin rapor dan ijazah sendiri” benar-benar terjadi.

Dulu, saat anak mengadu kepada orang tuanya karena dihukum oleh guru, orang tua pasti membela guru, bahkan akan menambah hukuman bagi anaknya. Mereka sadar bahwaguru memberi hukuman itu demi memotivasi anak didiknya agar lebih baik dalam belajar dan akhlaknya.

Bandingkan dengan realitas akhir-akhir ini. Ada guru yang digunduli oleh wali murid gara-gara ia memotong rambut muridnya demi kerapian. Ada wali murid yang memukul guru karena anaknya dipukul guru, padahal pukulan guru itu untuk mendisiplinkan anaknya. Pernahkah Anda membaca berita seorang guru ditahan kepolisian karena mencubit murid yang tidak acuh saat proses pembelajaran berlangsung? Dan mungkin masih banyak lagi kasus-kasus serupa lainnya.   

Anehnya, kepongahan para wali murid itu juga mulai menular kepada para murid. Sehingga hilanglah budaya sopan santun serta hormat dan patuh kepada guru. Jika marwah dan martabat guru rendah di mata para murid, apakah kiranya didikan, bimbingan, dan pengajarannya akan ditaati oleh mereka?

Oleh karena itu, murid, orang tua/wali murid, dan masyarakat juga mesti diberi pemahaman yang komprehensif tentang PP. No. 74 Tahun 2008 tentang Guru. Di pasal 39 ayat 1, misalnya, dijelaskan tentang kebebasan guru untuk memberikan sanksi kepada peserta didik karena melanggar norma agama, kesusilaan, kesopanan, peraturan tidak atau tertulis yang ditetapkan guru, peraturan tingkat satuan pendidikan, dan peraturan perundang-undangan dalam proses pembelajaran yang berada di bawah kewenangannya.

Mengenai sanksi kepada peserta didik, dalam ayat 2 di pasal 39 itu disebutkan bahwa sanksi itu bisa berupa teguran dan atau peringatan yang tidak atau tertulis, serta hukuman yang bersifat mendidik sesuai kaedah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan.

Selanjutnya, guru berhak mendapat perlindungan dalam melaksanakan tugasnya dari pemerintah, pemerintah daerah, satuan pendidikan, organisasi profesi guru, dan atau masyarakat sesuai dengan kewenangan masing-masing. (pasal 40). Dengan demikian, guru mendapatkan perlindungan hukum dari tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain. (Pasal 41).

Seharusnyalah, PP. No. 74 Tahun 2008 tentang Guru ini diindahkan oleh siswa, wali siswa, penggiat perlindungan HAM dan Perlindungan Perempuan dan Anak, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, media massa, para steakholder kependidikan serta masyarakat.

Perlindungan terhadap guru itu semakin diperkuat dengan yurisprudensi Mahkamah Agung yang dilansir di website MA, Jumat, 12/8/2016, bahwa guru tidak bisa dipidana karena menjalankan profesinya serta mendisiplinkan siswa.

Kedua, pola hubungan antara wali murid dengan guru (sekolah) yang transaksional, bukan mitra dan partisipatif. Para walimurid merasa berkuasa menuntut hasil belajar anaknya sesuai selera mereka yang rigid, tanpa menyadari kemampuan anaknya dan tidak menilai proses belajarnya yangtangible mau pun yang intangible.

Kondisi ini diperparah dengan adanya anggapan bahwa sekolahlah yang butuh murid. Karena jika jumlah murid tidak memenuhi standar jumlah minimal, maka satu sekolah harus dimerger dengan sekolah lain, bahkan bisa dibubarkan. Akibatnya, guru terancam tidak mendapatkan tunjangan sertifikasi karena tidak terpenuhinya jam mengajar minimal guru bersertifikasi, serta akibat-akibat lain yang merugikan guru.

Jika demikian, seyogyanya ada kerjasama, tetapi harus sama-sama kerja, serta kesepahaman antara guru (sekolah), keluarga dan masyarakat. Sebab, jika satu diantara ketiganya bermasalah, pasti jalannya pendidikan anak didik akan pincang dan tertatih-tatih.

Selamat jalan, Pak Budi. Doa kami untuk Anda. Semoga berkah!***

Reporter : Rizki Ardian
Editor : Ismi Fausiah
Berita 2
Berita Sebelumnya Butuh Liburan Bareng Keluarga, Ayo ke Pantai Toraja Sumenep
Berita Selanjutnya Kasihan, Wanita Ini Lahirkan Bayi Mungil Saat Jadi Penghuni Lapas Kelas II B Tulungagung 

Komentar Anda