UniqMag
spece

Seorang Amin, Sang Buruh Migran Malaysia di Mata Keluarga

berita terkini
SUci Rahmaniyah warga Dusun Sumuran Jenggawah Jember, bersama kedua putranya
Berita 1

JEMBER, (suarajatimpost.com) - Amin, begitu nama sapaan akrab sang buruh migran yang jenazahnya telantar selama 15 hari di Negeri Malaysia.

Di mata keluarga dia adalah sesosok kepala keluarga yang sabar dan tegar menghadapi cobaan hidup.

Dirinya tinggal serumah bersama mertua perempuan dan sang istri bersama ke dua anaknya Dusun Sumuran, Desa Klompangan, Kecamatan Ajung Jember.

Sebelum almarhum memutuskan untuk berangkat kerja keluar negeri, dia sempat melakoni profesi serabutan tanpa rasa gengsi dan tidak tebang pilih.

Mulai dari buruh kasar, sampai penjual barang bekas di Pasar Gebang (pasar lowak) dengan penghasilan tak tentu.

Cobaan dan terpaan ekonomi keluarga selama 2 tahun terakhir, membuat dirinya memutuskan untuk hijrah jauh dari keluarganya, merantau demi masa depan buah hati.

Maklum saja, dia tinggal serumah bersama mertua perempuan karena mertua lakinya sudah meninggal beberapa tahun silam, sehingga mau tidak mau dirinya adalah tulang punggung keluarga. 

"Mas Amin memutuskan berangkat ke Malaysia, karena ingin memperbaiki ekonomi keluarga. Anak juga dua mulai memasuki sekolah," ujar Suci Rahmaniyah sang istri.

Suci sadar, ditengah cobaan ekonomi yang menimpa keluarganya. Membuat dirinya sebagai seorang istri harus ekstra sabar, walaupun harus jauh dari sang suami.

"Sejak bapaknya anak-anak merantau, saya juga bekerja di salah satu pabrik di Jember. Maklum, ayahnya masih bekerja  berapa bulan sehingga kiriman juga masih belum lancar," ucap Suci menjelaskan.

Ibu dari dua orang anak ini juga menceritakan, semenjak suaminya dikabarkan sakit beberapa bulan lalu, dirinya bersama keluarga sempat menyuruhnya untuk pulang.

"Komunikasi terkahir dengan saya dan anak-anak 3 minggu lalu. Dirinya meminta maaf kepada pada saya dan anaknya kalau belum bisa membahagiakan keluarga. Pertama kirim Rp 500.000 dan berjanji mau kirim lagi mendekati hari raya ini," jelasnya sambil meneteskan air mata.

Ia mengakui, pada saat keberangkatan anak-anaknya sudah tidak memperbolehkan karena kondisi tubuhnya terlihat kurang fit.

"Tetapi dia memaksa berangkat, kami hanya bisa menangis berama anak-anak, tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah mendengar kabar seperti itu kami sangat terkejut dan hanya pasrah mungkin ini sudah jadi jalan nasib saya," terangnya.

Dijelaskan Suci, bahwa kedua anaknya sempat menanyakan keberadaan dan kapan ayahnya pulang untuk membawakannya oleh-oleh sepeda.

"Saya tidak bisa menjawab. Kami sekeluarga hanya bisa menangis dan berdo'a itu saja. Semoga anak saya diberikan ketabahan ditinggal ayahnya," harapnya.

Begitupun menurut Supriati, sang mertua Amin. Dirinya mengaku kaget hanya bisa pasrah dengan keadaan yang dialami oleh menantunya.

Padahal, sebulan sebelumnya sempat minta maaf kepada pihak keluarga." Sempat minta maaf sama saya, jika ada salah selama bersama kami," ucapnya.

Kata Supriyati, kabar yang nyampai kepada pihak keluarga,  bahwa jenazah bisa dibawa pulang jika pihak keluarga bisa menyiapkan uang Rp
50 .000.000.

"Amin orangnya baik dan tanggungjawab.Biaya pemulangan dari mana kita dapat, untuk makan sehari-hari saja kita susah. Apalagi yang bisa kami jual, untuk jajan dan biaya sekolah kedua anaknya masih harus usaha," akui dia.

"Beruntung, ada orang dermawan dari Desa Cangkring bernama Haji Rosul bersedia membantu mencarikan jalan. Saya tidak tau harus membalas dengan apa," sambungnya.

Dirinya dan keluarga hanya bisa pasrah dengan keadaan ini. Dan berharap pihak-pihak terkait khusunya pemerintah, bisa mencarikannya jalan agar jenazahnya bisa pulang.

"Bapak Presiden Jokowi, Bapak Gubernur, Ibu Bupati Jember, Amin juga warga kalian, anak kalian, tolong bantu carikan jalan," pintanya.

Dari sejumlah informasi yang beredar, banyak bentuk keprihatinan datang dari berbagai pihak dengan cara penggalangan dana untuk menebus jenazah di Rumah Sakit Kuala Lumpur Malaysia.

Dari Rp.50.000.000 setelah di negosiasi oleh pihak FTKI turun menjadi Rp 25.000.000 saja.

"Ya benar, kami masih terus melakukan lobi-lobi kepada pihak-pihak terkait, kepada KBRI, Konsulat,DPR dan kepada pemerintah setempat. Masyarakat Jember mohon sambung doanya, kami masih terus berjuang," tegas Mohamad Rosul Sekjen DPP FKTI.

Almarhum meninggalkan seorang istri dan kedua anak bernama Winasyah aulia putra dan Satrio Fadlan Permadi, yang sampai saat ini masih duduk di bangku sekolah PAUD di sekitar rumahnya.
 

Reporter : Imam Khairon
Editor : Winzani
Berita 2
Berita Sebelumnya Butuh Liburan Bareng Keluarga, Ayo ke Pantai Toraja Sumenep
Berita Selanjutnya Gasak Motor Saat Buka Puasa, Pria Bertato asal Lumajang Nyaris Dihakimi Warga Jember

Komentar Anda