UniqMag
Diknas Jombang

Tata Niaga Tembakau di Bondowoso, Masih 'Karut Marut'

berita terkini
Kabag Perekonomian Pemkab Bondowoso, Ghozali Rawan
Berita 1

BONDOWOSO, (suarajatimpost.com) -  Nasib petani tembakau mitra perusahaan saat ini sangat dilematis. Pasalnya, leading sektor yang mengatur regulasi dan tata niaga pembelian tembakau di Bondowoso terkesan saling lempar. Bahkan, Diskoperindag mengaku jika tidak pernah dilibatkan dan menuding semuanya yang mengatur adalah Bagian Perekonomian Pemkab Bondowoso.

Bambang Soekwanto Kepala Diskoperindag Bondowoso ketika dikonfirmasi di kantornya mengatakan, jika selama ini pihaknya belum pernah dilibatkan oleh perusahaan dan petani dalam menentukan harga pembelian tembakau.

“Sampai saat ini kami belum pernah dilibatkan, jadi saya tidak bisa berkomentar banyak terkait pembelian tembakau di Bondowoso. Lebih jelasnya silahkan hubungi Bagian Perekonomian Pemkab Bondowoso,” singkatnya, awal September lalu.

Sementara, Kepala Bagian Perekonomian Pemkab Bondowoso, Ghozali Rawan sudah memfasilitasi pertemuan antara pedagang, perusahaan dan Dishutbun di masa tanam. Saat ini pihaknya akan melakukan pertemuan untuk membahas tata niaga pada pasca tanam dengan leading sektor, yaitu Diskoperindag.

“Masalah tata niaga kita yang harus mengarah pembicaraan kesana. Saat ini, memasuki masa pasca tanam memang menjadi perhatian serius bagi kami, karena petani saat ini ada di pihak yang selalu dirugikan,” ujarnya usai mengikuti sidang paripurna di Gedung DPRD Bondowoso, Kamis (15/9/2016).

Selama ini yang dilakukan oleh Bagian Perekonomian adalah fasilitasi petani, perusahaan dan pemerintah baik itu masa tanam sampai pasca tanam.

“Ke depan kami akan berkoordinasi dengan semua yang terlibat, agar ada penguatan kemitraan anatara petani dan perusahaan. Kami akan evaluasi lagi untuk duduk bareng antara pemerintah, pengusaha dan petani,” tukasnya.

Kabag Perekonomian juga mengungkapkan, jika sampai saat ini perusahaan tembakau mitra petani hanya melaporkan rencana pembelian saja. Terkait realisasinya belum pernah ada kejelasan.

“Kesulitannya adalah disana. Karena dari tahun ketahun pihak perusahaan tidak pernah memberikan informasi realisasi pembelian kepada kami dan petani,” jelasnya.

Seharusnya jika melihat kondisi petani tembakau mitra perusahaan saat ini, pihak pemerintah tidak menunggu keluhan dari petani. APTI sendiri menginginkan jika pertemuan antara pemerintah, pengusaha dan petani jauh sebelumnya dilakukan sebelum memasuki pasca tanam.

“Harus ada penguatan kemitraan, agar kami tidak selalu merugi. Oleh karena itu, kami berharap secepatnya ada pertemuan antara semua pihak dengan petani, agar tata niaga tembakau di Bondowoso tidak karut marut,” pungkas M Yazid, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Bondowoso.

Reporter : Rizki Ardian
Editor :
Berita 2
Berita Sebelumnya Butuh Liburan Bareng Keluarga, Ayo ke Pantai Toraja Sumenep
Berita Selanjutnya Lelang Molor, Komisi 3 DPRD Trenggalek Dibuat Pusing

Komentar Anda