UniqMag
spece

Jombang Ijo Abang, Sentilan ala Bang Jo 'Untung Cuman Mimpi'

berita terkini
Ilustrasi
Berita 1

JOMBANG, (suarajatimpost.com) - Bang Jo tokoh diambil dari kata 'Abang sama Hijau'. Di mana Kota Jombang itu banyakan identik dengan Ijo dan Abang. Untuk sebuah panggilan 'Bang' itu biasa panggilan akrab untuk orang laki-laki bukan perempuan.

Nah mengawali cerita perdananya 'Bang Jo' ini mengisahkan tentang 3 (tiga) sahabat yang lama tidak bertemu pada akhirnya di pertemukan.

Namun sebelumnya, cerita ini bukan cerita sesungguhnya alias fiktif belaka jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan tolong dimaklumi karena cerita ini hanya untuk hiburan.

Langsung saja, Kala itu 'Bang Jo' lagi ngopi di sebuah warkop free wi-fi. Untuk janjian dengan teman lama yang beberapa tahun tidak dipertemukan karena sedang melanjutkan pendidikan yang berbeda daerah. Temannya 'Bang Jo' tersebut laki-laki dan perempuan, sebut saja 'Cak Jum' dan 'Mbak Mis.

Mereka bertiga akhirnya mengobrol bercanda gurau lalu salah satu dari mereka yakni Cak Jum bercerita tentang mimpinya.

"He, lur' semalam loh aku bermimpi," katanya.

Tanpa basi basi Mbak Mis menyahuti cerita mimpi tersebut. 

"Mimpi apa Jum mimpi mau nikah apa, emang sudah dapat jodoh. ?," tanya Mbak Mis dengan rasa ingin tau.

Setelah ada yang bertanya Cak Jum langsung menceritakan mimpinya semalam.

"Aku mimpi kembali ke jaman kerajaan. Aku mimpi, melihat ada Seorang Adipati yang baru diangkat, lalu bikin perombakan hulu-balang kepengurusan besar-besaran," cerita Cak Jum.

Tanpa disadari dari tiga sahabat tersebut, ada yang suka iseng, menjawab bahwa mimpinya Cak Jum karena banyak tidur.

"Wah kebanyakan tidur kamu cak, malah hidup sekarang serba digital mimpi kembali ke jaman kerajaan, sekalian saja kembali ke jaman purba, he, he, he," sahut Bang Jo.

Menanggapi celutak Bang Jo, Cak Jum dengan kembali bercerita apa yang dimimpikan mungkin ada sebuah wangsit

"Walah siapa tau ini pertanda loh, jarang yang bermimpi begitu, loh," paparnya.

Mbak Mis juga sempat ngebully ucapan Cak Jum.

"Weleh weleh, sudah mulai ngelantur, apa mungkin efek dari mata kuliahmu, Jum," sambar Mbak Mis.

Saking menghargai cerita temannya, Bang Jo menyuruh Cak Jum untuk melanjutkan cerita.

"Sudah biarin Mis, ya dilanjutin cerita mimpimu Jum, tak dengerin sambil ngopi," ucap Bang Jo.

Karena sudah dapat pendengar setia Cak Jum menceritakan mimpinya mulai awal mimpi.

"Dalam mimpi ku. Bukan hanya perombakan itu saja ada yang tetap dijadikan kepala tabib untuk merawat rakyat yang sakit ada yang dipindah sebagai hulu-balang lain. Lah, waktu itu sehabis perombakan ada rakyat yang jatuh dari kudanya, lalu dirawat oleh tabib kerajaan, karena malam hari jatuhnya jadi anak buah tabib bukan kepala tabib, lah, anak buah tabib hanya ngobatin dengan air hangat dan dioles sama getah pohon, eh malah bilangnya tidak apa apa, ngak taunya rakyat yang jatuh dari kuda tadi, sibuk angin sudah boleh pulang di sini tidak ada kamar perawatan akhirnya rakyat yang jatuh tadi dibawah pulang keluarga, begitu pulang banyak keluar darah dari hidung akhirnya dirawat tabib biasa," tukasnya.

Tanpa disadari sehabis dibully malah, mbak Mis, meminta untuk melahirkan cerita Cak Jum mungkin penasaran.

"Denger ceritamu aku kok jadi penasaran Jum, dah ayo lanjutin," pinta Mbak Mis.

Cak Jum melanjutkan bahwa apa yang sebuah kesalahan bila itu benar dilakukan oleh sang tabib.

"Pokoknya kasihan lah, Kok gitu ya malah kepala tabib seakan tidak berdosa. kasihan adipatinya, rasa kepercayaan rakyatnya pada sang adipati jadi berkurang gara gara kelakuan tabib," lanjut Cak Jum.

Tiba tiba Mbak Mis memotong cerita Cak Jum.

"Sebentar kenapa kok berkurang, apa hubungannya dengan adipati," tegas Mbak Mis.

Dengar seperti itu Cak Jum lalu menjelaskan bahwa bawahan yang salah secara otomatis atasan yang bertanggung jawab.

"Lah kepala tabib bawahan siapa, adipati kan, kalau bawahan berbuat salah yang disalahkan pastinya, kan atasan, benar atau salah," terangnya.

Pada akhirnya Mbak Mis menerima alasan Cak Jum, karena sangat masuk akal.

"Oh ya ya ya, benar masuk akal. Nggak rugi kamu nuntut ilmu ke seberang, mantap Jum," tandasnya.

Tanpa disadari sehabis menuangkan kopi Bang Jo, tertawa terbahak bahak.

"Ha, ha, ha, ha mungkin sang tabib itu tabib karbitan. Ha, ha, ha,"  tawa Bang Jo.

Teman satunya juga tertawa sedelah Bang Jo membuat sebuah lelucon kecil.

"Kel, kel, kel, kel, emangnya pisang dikarbit.? adehhh," cuit Mbak Mis.

Dengan tenang Cak Jum tetap menceritakan pada 2 sahabatnya tentang mimpinya.

"Sebenarnya tabib di kadipaten itu ada 2 (dua) kepala tabib, malah kepala tabib satunya minta anggaran alasan bikin kamar, alasan sih bilangnya sih biar muat banyak pasiennya, edan ya.!," lanjut Cak Jum di ceritanya 

Karena itu hanya sebuah mimpi, Bang Jo menyuruh untuk tidak melanjutkan cerita.

"Ha, ha, ha, ha Sudah jangan di teruskan itu cuman ngimpi," sahut Bang Jo.

Dengan mengelus dada, Cak Mis berharap tidak sampai terjadi di pemerintahan saat ini.

"Ya semoga nggak terjadi di pemerintahan kita yang nyata," tandas Cak Jum sambil berharap.

Tak mau ketinggalan Mbak Mis sempat menceletuk harapan Cak Jum.

"Lah, kalau terjadi gimana," pinta Mbak Mis sambil menunggu jawaban dari Cak Jum.

Cak Jum menjawab apabila terjadi sangat kasihan rakyat dan pimpinan daerah.

"Ampun ya kasihan rakyat dan pimpinan daerahnya lah, jangan sampek lah," jawab Cak Jum.

Tak ketinggalan Bang Jo ikut berkomentar nada sedikit bikin kesel.

"Kalau itu bukan mimpi, ya mungkin ngopinya kurang jauh, sono suruh  ngopinya di hutan amazon, biar yang diajak ngopi bukan manusia, lah kalau mau jadi tabib yang dirawat itu? ha, ha, ha, ha," canda Bang Jo.

Dengan nada sedikit kesal tapi bikin tertawa, Cak Jum, merespon candaan Bang Jo.

"He, he, he, he, jangkrik, hutan amazon pas itu, ah, entahlah. Daripada mikir, mendingan ngopi, dasar Bang Jo nggak berubah dari dulu," gerutu Cak Jum.

Karena cerita dipotong Bang Jo, Mbak Mis masih berharap Cak Jum bercerita.

"Selanjutnya gimana Jum.?," harap Mbak Mis.

Jawaban singkat dari Cak Jum.

"Terus aku kebangun dari tidur," ungkapnya.

Di balik cerita mimpi itu Bang Jo berguman, hanya mimpi.

"Eh ladalah, hulu balang yang bikin masalah, rakyat sama adipati jadi korban sang tabib 'untung cuma mimpi'," ringkasnya.

Selanjutnya, mereka bertiga melanjutkan  minum kopi, di mana mereka memang lama tidak bertemu sekarang dipertemukan kembali di balik warkop free wi-fi, selanjutnya mereka berpamitan pulang dan janjian bertemu pada akhir pekan berikutnya.

Reporter : Hariyanto
Editor : Krisdiantoro
Berita 2
Berita Sebelumnya Begini Misteri Pulau Baru di Gili Raja Sumenep
Berita Selanjutnya Diduga Kecapean, Tiga Penyelenggara Pemilu di Sumenep Meninggal

Komentar Anda