UniqMag
spece

Dua Perusahaan Besar Kimia Farma Dan Lapindo Melakukan Pengeboran di Jombang

berita terkini
Pancang pengeboran PT Lapindo Brantas (kanan) pancang PT Kimia Farma (Kiri)
Berita 1

JOMBANG,(suarajatimpost.com) - Mega proyek eksplorasi di Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Jawa Timur ternyata ada 2 (dua) kegiatan eksplorasi yang dilakukan oleh perusahaan besar. 

Dari 2 (dua) perusahaan besar tersebut yang pertama adalah PT Kimia Farma melakukan pengeboran air asin yang mempunyai kandungan yodium, yang kedua PT Lapindo Brantas melakukan pengeboran gas bumi.

Namun salah satu dari perusahaan tersebut ada penolakan dari warga desa setempat dan satunya tidak ada penolakkan dari warga.

Berikut apa penyebab terjadinya penolakan dan tidak ada penolakan soal kegiatan eksplorasi oleh suarajatimpost.com.

1. PT Kimia Farma unit Watudakon tidak ada penolakan dari warga.

PT Kimia Farma unit Watudakon hanya melakukan kegiatan pengeboran mengambil kandungan yodium (air asin) dengan kedalaman sekitar 2000 feet atau sekitar 600 meter sampai 800 meter dan belum terdengar kabar sampai merugikan atau memberi dampak pada warga.

Menurut, Achmad pekerja pengeboran PT Kimia Farma Unit Watudakon, menerangkan bahwa pengeboran oleh PT Kimia Farma yang diambil hanya air asin yang mempunyai kadungan yodium dan kedalaman ditulis disebuah prasasti dan dipasang panel instalasi listrik.

"Ke dalam 665 meter, 760 meter, 750 meter yang dangkal 250 meter di dalam pabrik, ini yang diambil air asin kandungan yodium," ucapnya saat di lokasi pengeboran Desa Jombok, Kecamatan Kesamben. Kemarin Kamis (14/3/2019).

2. PT Lapindo Brantas ada penolakan dari warga saat itu. 

PT Lapindo Brantas melakukan pengeboran gas bumi dengan kedalaman sekitar 12.000 feet sekitar 3 kilo meter lebih, dan PT Lapindo Brantas pernah gagal saat melakukan pengeboran di Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo, sekitar bulan Mei 2006, sehingga menyemburkan lumpur panas dari  rekahan tanah, sampai sekarang belum berhasil menghentikan semburan tersebut. 

Dari kegagalan tersebut banyak pemukiman warga yang terdampak bahkan makam leluhurnya hilang, serta pabrik juga jalan tol harus pindah dan jalan kereta api terganggu, bukan hanya itu saja ganti rugi terhadap warga yang berdampak terpaksa pemerintah pusat yang membayar pada warga.

Berawal dari warga sempat melakukan aksi demo bahkan sempat mengadu ke DPRD dan Pemkab Jombang agar tidak ada kegiatan pengeboran di desanya, namun tak membuahkan hasil.

Sewaktu sosialisasi antara PT Lapindo Brantas dengan Warga Desa Blimbing di ruang pertemuan Kantor Desa Blimbing pada hari Rabu (04/7/2018), kala itu tim teknis dari PT Lapindo Brantas menjelaskan kepada warga bahwa kedalaman hampir sama dengan  sumur metro 1 sekitar 12.000 feet sekitar 3 kilo meter lebih.

"Sumur yang di Jombang cukup dalam, jadi selain sumur sumur kimia farma yang sekitar 2000 feet, namun sumur Jombang kita cukup dalam karena hampir sama dengan kedalaman yang di metro 1," terang tim teknis PT Lapindo Brantas pada warga Blimbing saat itu.

Sesaat dalam sosialisasi tersebut warga domisili sekitar yang ikut sosialisasi, Purnomo sempat protes perihal kedalam yang dilakukan oleh PT Lapindo Brantas.

"Gini ya pak mohon maaf, ini yang di Kimia Farma, warga sini yang lebih paham, ngak nyampai 2000," sela Purnomo, saat tim teknis menjelaskan pada warga tentang teknis pengeboran oleh PT Lapindo dikegiatan sosialisasi di Balai Desa Blimbing kala itu.

Diketahui, bahwa tempat pengeboran yodium serta pabrik PT Kimia Farma unit Watudakon berjarak sekitar 1 (satu) kilometer dengan lokasi pengeboran gas bumi PT  Lapindo Brantas dan kedua perusahaan tersebut sudah ada kegiatan pengeboran.

Reporter : Hariyanto
Editor : Krisdiantoro
Berita 2
Berita Sebelumnya Begini Misteri Pulau Baru di Gili Raja Sumenep
Berita Selanjutnya Gasak Motor Saat Buka Puasa, Pria Bertato asal Lumajang Nyaris Dihakimi Warga Jember

Komentar Anda