Peristiwa Daerah

Kukuhkan Bunda PAUD, Ini Harapan Bupati Pamekasan


calendar_today 10/02/2020 - 20:15
default ads banner CODE: NEWS / LARGE BANNER 1 / 320x100

PAMEKASAN,- Bupati Pamekasan, Baddrut Tamam mengkukuhkan Ibu Nayla Hasanah sebagai Bunda PAUD Pamekasan di Mandhepa Agung Ronggosukowati Pamekasan, Senin (10/2/2020).

Dalam pengarahannya Badrut Tamam meminta Bunda PAUD segera tancap gas bekerja professional menjadikan PAUD di Pamekasan sebaga bagian dari model pendidikan yang membanggakan masyarakat. 

“Kenapa harus tancap gas ? karena masa pengabdian terbatas, sementara sesuatu yang harus diberikan kepada PAUD tidak terbatas,” terangnya.

Menurutnya, Karena tidak terbatas, pengabdian ini rasanya 24 jam itu kurang untuk memberikan pelayanan yang terbaik.

“Maka waktu perjuangan ini kita efektifkan kita terus laksanakan untuk kemudian suatu saat kita berpulang kepada Allah SWT, semua orang mengenang atas perjuangan yang kita lakukan,” jelasnya.

Kenangan kehidupan itulah, kata Badrut Tamam, yang kemudian nanti akan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.

Inspirasi yang menjadi ketauladanan dan dengan ketauladanan itu pulalah generasi berikutnya akan meniru beberapa hal baik yang pernah dilakukan dilakukan oleh generasi sekarang ini.

“Semoga sukses, semoga PAUD di Pamekasan membanggakan bagi kita semua,” harapnya.

Saat ini, kata Badrut Tamam, di Pamekana ini ada 902 PAUD, dengan dibegitu ada ribuan orang pengelola PAUD dan juga ribuan siswa PAUD. Dengan data ini, kata dia, pengelolaan pendidikan usia dini itu membutuhkan upaya yang serius kerja keras dan harus terencana.

“Tidak boleh main main dengan pelaksanaan pendidikan. Salah memberikan edukasi salah melahirkan generasi. Salah menciptakan atmosfir edukasi di PAUD akan menjadi persoalan diujungnya. PAUD awal pendidikan, dimana anak anak kita perlu diajakarkan bagaimana local wisdom atau nilai dan etika yang kita miliki,” jelasnya.

Jika diwaktu PAUD, TK dan seterusnya tidak diajari tentang bagaimana memahami nilai nilai etika, lanjut Badrut Tamam, maka berikutnya anak akan sulit untuk belajar etika dan lainnya. Karena pondasi keilmuan, pondasi kultur, pondasi kebudayaan, saatnya yang tepat diajarkan mulai saat di PAUD.
Itu semua, katanya, menjadi tanggung jawab Bunda PAUD, untuk menamcapkan nilai nilai kepada generasi anak. Tidak salah jika di PAUD diajarkan tentang bahasa yang benar. Karena dari bahasa itu akan menjadi kerpibadian dari kepribadian itu akan menjadi tindakan, dan dari tindakan akan terasa dalam berkorelasi dan berhubungna dengan orang lain.

“Dengan mengajarkan nilai etik akan melahirkan generasi yang sadar akan akar budayanya. Kalau kemudian tidak diajari etika atau local wisdom maka bisa saja anak akan tercerabut dari akar kesejarahannya. Kalau sudah begitu, akhirnya orang Pamekasan ketika kuliah di Surabaya atau di Jakarta tidak mau pakai Bahasa Madura walaupun bertemu dengan temennya yang asal Madura,” ungkapnya.

“Kalau kemudian generasi masa depan pondasi kulturnya hilang dia akan tercerabut dari akar sejarahnya dan menjadi tidak bangga dangan tumpah darahnya, dia akan meninggalkan dan tidak membangun apapun untuk daerah dimana dia lahir dan besar dan mengenyam pendidikan. Karenanya saya memohon, ajari anak anak kita local wisdom atau nilai kultur yang kita miliki,” pungkasnyas


Reporter : Faisol Jalaludin
Editor : Mu'ezul Khoir
Publisher : Alfina Putri

default ads banner CODE: NEWS / LARGE BANNER 2 / 320x100
default ads banner CODE: NEWS / MEDIUM / 300x250
default ads banner CODE: HOME / LARGE BANNER 1 / 320x100
default ads banner CODE: HOME / LARGE BANNER 2 / 320x100
FOKUS BERITA