Sosial

Mbah Sipol Penjual Kayu Pikul, Potret Kemiskinan Kabupaten Bondowoso


calendar_today 30/06/2019 - 01:41
default ads banner CODE: NEWS / LARGE BANNER 1 / 320x100

BONDOWOSO - Mbah Sipol begitulah panggilan akrabnya. Wajahnya sudah terlihat keriput dimakan usia dengan mengenakan baju lusuh ala kadarnya.

Nafasnya juga mulai tidak teratur. Tatapannya kosong seperti menanggung beban berat. Namun, kondisi itu tidak menyurutkan semangatnya untuk berjuang.

Badannya juga sudah mulai rengkuh, karena hampir setiap hari harus tertimpa beban berat puluhan kilogram kayu di pundaknya.

Dirinya harus melawan dinginnya malam, hanya untuk sekedar mencari nafkah untuk sekedar menghidupi keluarganya.

Pria yang sudah mulai memasuki usia 65 tahun ini, berasal dari Desa Curahpoh, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso Jawa Timur.

Meskipun saat ini sudah banyak masyarakat banyak yang berpindah memakai gas LPG, dirinya tetap saja bertahan berjualan kayu bakar.

Padahal, kayu yang akan dijual, harus diambilnya dari hutan dengan menempuh puluhan kilometer dengan cara dipikul.

Ya mau bagaimana lagi, karena itu adalah satu-satunya sumber penghasilan. Mau kerja lain, dirinya tidak memiliki kepandaian khusus.

Katanya, dia melakoni profesi itu sejak muda diajari oleh kakek tercintanya yang saat ini sudah tiada.

Harga kayu bakarnya pun, juga tidak terlampau mahal, hanya cukup Rp 25.000 saja sepikulnya. 

Meskipun letih, dia terus menyusuri sepanjang lorong jalanan di kota Bondowoso, hanya agar kayunya bisa dibeli oleh orang.

Namun, hari ini nampaknya rejeki masih belum berpihak kepadanya. Jangankan membeli, menawarpun tidak.

Lalu-lalang pawai Hari Jadi Bondowoso (Harjabo) di Alun-alun Ki Bagus Azra, seakan tak mampu membuat dirinya tergoda untuk ikut merasakan bahagia. 

Maklum saja di belakang, sang istri dan anak tercintanya menunggu penuh harap sang ayah datang membawa uang, hanya untuk membeli beras untuk bertahan hidup.

"Pagi saya ke hutan, siangnya saya jual keliling sampai laku, kadang sampai jam 22.00 WIB (malam)," ungkapnya dengan nada memelas, di seputaran bundaran depan museum gerbong maut, Sabtu, (29/6/19).

Ia mengaku pasrah, jika pada malam ini kayu bakarnya tidak ada yang membeli, akan tidur di emperan toko.

"Hari ini tidak ada rejeki, mungkin besok. Saya sudah terbiasa tidur di pinggiran toko. Doakan saja nak, kayu cepat laku karena istri dan saya menunggu," ucapnya.

Disisi lain, peringatan Harjabo ke- 200 tahun, banyak pihak menilai kegiatan yang dilakukan terkesan mubazir.

Seperti perebutan 200 tumpeng besar, hingga banyak sayuran dan buah-buahan terbuang berserakan di jalanan.

Mbah Sipol adalah salah satu contoh potret kecil, kemiskinan di Ķabupaten Bondowoso yang saat ini masih jauh dari kata cukup.


Reporter : Nuryasit
Editor : Mu'ezul Khoir
Publisher : Alfina Putri

default ads banner CODE: NEWS / LARGE BANNER 2 / 320x100
default ads banner CODE: NEWS / MEDIUM / 300x250
default ads banner CODE: HOME / LARGE BANNER 1 / 320x100
default ads banner CODE: HOME / LARGE BANNER 2 / 320x100
FOKUS BERITA