Suara Kampus

Lewat Permainan Tradisional Selodor Bhanteng, Mahasiswa UNIRA Perkenalakan Matematika


calendar_today 01/07/2019 - 16:25
default ads banner CODE: NEWS / LARGE BANNER 1 / 320x100

PAMEKASAN - Perkembangan teknologi secara perlahan menggantikan permainan tradisional. Banyak anak masa kini lebih sering bermain gadget daripada melakukan aktivitas fisik di luar ruangan. 

Namun ada yang berbeda yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa aktif jurusan Matematika Universitas Madura (UNIRA). Diantaranya, Dhofir, Durroh Halim dan Sayyidatun Nisa yang berinovasi untuk memunculkan kembali permainan tradisional itu sendiri dengan menanamkan konsep Matematika pada anak Madura.

Mereka menghadirkan media nostalgia yang diberi nama Selodor Bhanteng atau lebih dikenal dengan istilah Loteng.

Bagi mereka permainan tersebut dinilai jauh lebih dapat meningkatkan kemampuan, termasuk kemampuan kerjasama, sportifitas, kemampuan membangun strategi dan ketangkasan, serta karakternya.

Durroh Halim salah satu yang punya inovasi tersebut menuturkan, ide itu muncul karena banyak permainan tradisinal yang mampu memberi pendidikan terhadap anak seperti halnya bhisek (engklek), rem ngerreman (petak umpet), lajengan (layang-layang), leker (kelereng), balajet (bola kasti), bhanteng, selodor (gobak sodor), dan lain sebagainya. 

“Permainan tradisional ternyata mampu mempengaruhi dalam mengembangkan kecerdasan intrapersonal anak,” jelas Durroh Halim.

Namun, lanjut Durroh Halim, mayoritas anak Madura, terutama di daerah perkotaan, sudah mulai lupa tentang permainan tradisional. Gadget dan Smartphone sukses membuat anak Madura lebih suka bermain game dengan ponsel pintar mereka.

“Setiap anak mempunyai hak untuk bermain, namun tentu memiliki syarat, misalnya tidak berbahaya, sukarela meningkatkan kemampuan eksplorasi anak dan interaksi sosial, serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak,” paparnya.

Ia juga memaparkan lebih jelas alasan mendasar pihaknya memilih permainan tradisional dalam upaya menanamkan konsep Matematika. Menurutnya dalam permainan tradisional, terdapat konsep Matematika yang tersembunyi. Anak Madura khususnya hanya bermain tanpa mengetahui konsep-konsep apa yang bisa dia dapat.

“Padahal, pelajaran matematika sangat bermanfaat sebagai ilmu dasar untuk penerapan di bidang lain. Namun pentingnya peranan matematika dalam kehidupan tidak didukung dengan fakta yang terjadi di lapangan,” ungkap mahasiswa yang akrab dipanggil Durroh tersebut.

Saat ini, di Indonesia, khususnya di Madura, hasil belajar matematika siswa sekolah masih tergolong rendah dan masih merasa bahwa pembelajaran Matematika sangat susah dipelajari. Sisi lain, meskipun manfaat permainan tradisional sangat banyak bagi tumbuh kembang anak, namun tidak banyak orang tua yang mengetahui manfaat tersebut.

Bahkan orang tua sangat jarang masih mengingat bagaimana memainkannya dan jarang menceritakan permainan tradisional yang pernah di mainkan dulu pada anak-anaknya.

“Hal ini tentu membuat eksistensi tradisional semakin tidak diketahui oleh masyarakat luas,” imbuhnya. 

Untuk itu, sebuah solusi inovatif hadir untuk mengatasi masalah di atas, yaitu Loteng. Loteng singkatan dari selodor bhanteng, adalah penyatuan permainan tradisional yaitu selodor dan bhanteng yang dikemas semenarik mungkin tanpa menghilangkan keaslian masing-masing permainan yang dapat mempertahankan budaya tradisional dan menanamkan konsep matematika pada anak Madura.

“Ayo, kita bernostalgia kembali dengan permainan tradisional sembari belajar konsep-konsep Matematika,” tukasnya.


Reporter : Faisol Jalaludin
Editor : Mu'ezul Khoir
Publisher : Alfina Putri

default ads banner CODE: NEWS / LARGE BANNER 2 / 320x100
default ads banner CODE: NEWS / MEDIUM / 300x250
default ads banner CODE: HOME / LARGE BANNER 1 / 320x100
default ads banner CODE: HOME / LARGE BANNER 2 / 320x100
FOKUS BERITA